Sumber : http://www.sableng.com/story/profil-perampok-pulsa-terus-merampok
Profil Perampok Pulsa Terus Merampok
SEBUTLAH nama salah satu penyelenggara Content Provident (CP) itu Munap. Usianya belum 40 tahun. Dengan pengetahuannya di bidang aplikasi lalu berpartrner bisnis dengan oknum sosok mantan dan pejabat polisi atau tentara, penegak hukum. Munap mendapatkan fasilitas penyelenggaraan CP, dalam bentuk short code empat angka, xxxx. Sebagaimana sudah saya sampaikan di Jakarta Lawyer Club Tvone, mendapatkan fasilitas short code itu juga bagian dari kolusi.
Bentuk “permainan” konten yang mereka lakukan antara lain, menyiapkan isi SMS seperti ini, “Dari 15 cewek yang ada di cafĂ© …, 10 orang masih jomblo, kamu mau kenalan? Segera pencet bintang…”
Setelah ribut unreg berbayar dan tidak bisa dilakukan, akal-akalan pun dimainkan dengan memencet tanda bintang. Sesungguhnya memencet bintang adalah juga sms premium berbayar yang bisa langsung menyedort pulsa. Dari contoh pesan yang disampaikan pastilah yang disasar anak muda.
Sumber saya di sebuah aosiasi CP mengatakan, “Kini soal isi SMS-pun operator yang memberikan saran. Mereka punya target billing perhari, perbulan. Jadi banyak juga urusan akal-akalan ini diputuskan oleh operator sendiri. Kami CP tinggal menerimanya.” Agaknya kalimanya yang pas: tinggal menikmati.
Kedaan ini juga dimanfaatlan Munap, sosok yang saya paparkan. Ia bersama belasan kawannya di CP yang muda-muda itu bercita-cita. “Kita kumpulkan uang sebanyak-banyak untuk mencaleg 2014,” tuturnya ke genk-nya. Caleg yang dimaksudkannnya, adalah calon anggota legislatif alias menjadi wakil rakyat di DPR.
Tak tanggung-tanggung implementasi target itu. Dalam sebulan ia bisa mendapatkan pemasukan Rp 60 miliar. Dari mana uang sebanyak itu?
“Lebih dari Rp 60 miliar bisa Bang, “ kata sumber saya ini pula, “ Kita bisa meminta misalnya 3 juta nomor pemakai ke operator perhari untuk disedot pulsa. Oknum operator itu bisa memilihkan nomor pelanggan yang kebanyakan di daerah. Yang tidak mungkin melakukan complain. Lalu dalam sehari makan saja pulsanya Rp 2.000, maka sudah Rp 6 miliar. Jika CP dapat sepertiganya?”
Anda bisa menghitung sendiri berapa pemasukannya sebulan?
Maka urusan penampilan di jalanan Anda jangan tanya tongkrongan mobil apa yang dimiliki Munap. Sebutlah mobil sekelas Hardtop TJ Toyota yang berharga Rp 1,2 miliar hingga sedan Bentley dua pintu seharga diatas Rp 5 miliar, menghiasi garasi rumahnya di bilangan Jakarta Selatan. Bidin, anggap saja begitu nama teman sesama pebisnis sejenis, tak kalah beda. Begitu pula belasan lainnya yang saya ketahui langgamnya.
Hari begini, dengan sorotan publi yang tajam terhadap perampokan pulsa, Munap, Bidin, dan "genk" penyelenggara CP tidak merasa terganggu. “Bang, mereka baru saja ngumpul, urunan uang untuk diberikan ke oknum, agar msalah ini tidak berlanjut ke tingkat penyidikan tidak berlanjut berlanjut ke pengadilan.”
Hidup di ranah rampok seperti hari ini memang segalanya uang. Maka ketika pengalaman saya mendampingi Maria Lintong, Kamis pekan ini, melapor ke Polda Metro Jaya, laporannya tak langsung bisa diterima. “Saya harus membuat print kasus yang saya alami, baru melapor lagi,” uajara Maria.
Maka Maria mengaku pekan depan dengan ratusan publik yang dirugikan, mencoba berkonsultasi dengan pengacara yang peduli dan siap berjuang menang bagi publik.
Di ranah negara dengan hukum dan keadilan saat ini seakan dilingkupi jelaga mainan, apatah hasilnya upaya publik seperti yang dilakukan Feri, Maria dan lain melaporkan kasus perampokan ini? Apakah akan membawa hasil?
Apalagi di pekan ini negara seakan “break” ihwal reshuffle.
Badan Regulasi telekomunikai Indonesia (BRT) yang dibentuk seharusnya mewakili kepentingan publik, terindikasi sangat tajam justeru menjadi bagian perampokan ini. "Bahkan pimpinan BRTI ketika talkshow di sebuah televisi yang juga menampilkan pelapor Feri, di saat sesi break iklan bicara ke Feri: udah tak usah lapor, kamu pasti kalah!" Sumber saya geleng-geleng kepala.
Sehingga dengan menyimak kehidupan dan pola pikir Munap, Bidin dan pengusaha muda CP lainnya, lalu membayangkan ranah hukum dan keadilan di negeri ini, saya seakan berada di tengah kartel narkoba Kolumbia. Kehilangan kata melanjutkan tulisan ini.
Adakah negeri ini berpancasila? Selamat berakhir pekan
Iwan Piliang, Wartawan sableng.com
Esensi jurnalisme kerendah-hatian verifikasi

Artikel yang hebat
BalasHapusnegeri para mafia...
menjadi pembelajaran yang hebat buat generasi bangsa